Asuhan Keperawatan

Jumat, 08 Februari 2013

Askep Hipertensi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar belakang
Hipertensi menjadi momok bagi sebagian besar penduduk dunia termasuk Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah penderita yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Berbagai faktor yang berperan dalam hal ini salah satunya adalah gaya hidup modern. Pemilihan makanan yang berlemak, kebiasaan aktifitas yang tidak sehat, merokok, minum kopi serta gaya hidup sedetarian adalah beberapa hal yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi ini. Penyakit ini dapat menjadi akibat dari gaya hidup modern serta dapat juga sebagai penyebab berbagai penyakit non infeksi. Hal ini berarti juga menjadi indikator bergesernya dari penyakit infeksi menuju penyakit non infeksi, yang terlihat dari urutan penyebab kematian di Indoensia. Untuk lebih mengenal serta mengetahui penyakit ini, maka kami akan membahas tentang hipertensi. Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau peningkatan tekanan darah diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg (Anindya, 2009).
Hipertensi menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Tanpa melihat usia atau jenis kelamin, semua orang bisa terkena hipertensi dan biasanya tanpa ada gejala-gejala sebelumnya. Hipertensi juga dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ target seperti otak, jantung, ginjal, aorta, pembuluh darah perifer, dan retina.
Oleh karena itu, negara Indonesia yang sedang membangun di segala bidang perlu memperhatikan pendidikan kesehatan masyarakat untuk mencegah timbulnya penyakit seperti hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif dan lain-lain, sehingga potensi bangsa dapat lebih dimanfaatkan untuk proses pembangunan. Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan tindakan atau program pencegahan yang terarah. Hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, yang dapat dilakukan pada waktu check-up kesehatan atau saat periksa ke dokter.


1.2     Tujuan  
1.2.1 Tujuan Umum
Menjelaskan pengertian dan asuhan keperawatan pada klien dengan hipertensi.

1.2.2        Tujuan Khusus
    1. Mengetahui dan memahami definisi hipertensi.
    2. Mengetahui dan memahami etiologi/ faktor pencetus hipertensi.
    3. Mengetahui dan memahami Patofisiologi hipertensi
    4. Menyebutkan dan memahami manifestasi klinis hipertensi.
    5. Mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang pada hipertensi.
    6. Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi.
                                       
1.3      Manfaat 
1.  Bagi mahasiswa
Mahasiswa mampu meleksanakan asuhan keperawatan pada klien dalam pemenuhan kebutuhan manusia.
2.  Bagi instusi pendidikan
Sebagai bahan bacaan yang bermamfaat bagi seluruh pembaca.
3.  Bagi rumah sakit
Meningkatkan mutu dan pelayanan dan juga sebagai acuan dan ladasan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan manusia.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Penyakit
2.1.1 Pengertian
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.( Smith Tom, 1995 )
Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg ( Kodim Nasrin, 2003 ).
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik ( Smith Tom, 1995 ).
 Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah (Mansjoer,2000 : 144)
 Hipertensi adalah keadaan menetap tekanan sistolik melebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostik ini dapat dipastikan dengan mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang terpisah (FKUI, 2001 : 453)
 Patologi utama pada hipertensi adalah peningkatan tekanan vesikalis perifer arterior (Mansjoer, 2000 : 144)
Hipertensi heart disease (HHD) adalah istilah yang diterapkan untuk menyebutkan penyakit jantung secara keseluruhan, mulai dari left ventricle hyperthrophy (LVH), aritmia jantung, penyakit jantung koroner, dan penyakit jantung kronis, yang disebabkan karena peningkatan tekanan darah, baik secara langsung maupun tidak langsung.









2.1.2 Anatomi dan Fisiologi
Jantung terletak di dalam rongga mediastinum, yaitu diantara kedua paru-paru dan agak condong ke sisi kiri (pada orang dewasa). Bagian dasar terbentang setinggi Intercosta ke-2 lebih kurang 3 cm dari sternum dan bagian puncak (apex) nya berada setinggi Intercosta 5/6 kiri, jantung merupakan suatu organ kecil dengan berat sekitar 250-300 gram yang dibungkus oleh selaput tipis elastis yang disebut perikardium. Perikardium terdiri dari 2 lapis yang lapisan sebelah dalam disebut perikardium visceral yang mempunyai hubungan langsung dengan permukaan jantung dan lapisan sebelah luar disebut perikardium parietal yang bagian depannya menempel pada tulang belakang, serta bagian bawahnya menempel pada diagfragma. Diantara kedua lapisan perikardium terdapat sedikit cairan yang berfungsi sebagai lubrikasi yaitu mengurangi gesekan-gesekan yang disebabkan oleh gerakan memompa dari jantung itu sendiri
Jantung mempunyai 4 ruang yaitu atrium kiri dan kanan, serta ventrikel kiri dan kanan. Antara rongga kiri dan kanan dipisahkan oleh septum, septum atrial adalah bagian yang memisahkan antara atrium kiri dan kanan sedangkan septum ventrikel adalah bagian yang memisahkan ventrikel kiri dan kanan.
Rongga atrium dan ventrikel dibatasi oleh katup yang disebut atrio ventrikuler. Katup trikuspidalis adalah katup atrio ventrikuler yang membatasi atrium kanan dan ventrikel kanan. Sedangkan katup mitralis adalah katup atrio ventrikuler yang membatasi atrium kiri dan ventrikel kiri.
Diantara ventrikel dan pembuluh darah besar yang keluar dari jantung juga dibatasi oleh katup yang disebut semilunar. Katup semilunar pulmonalis adalah katup yang membatasi katup ventrikel kanan dan arteri pulmonalis. Katup semilunar aorta adalah katup yang membatasi ventrikel kiri dan aorta.
      Bunyi jantung dibentuk dari 3 faktor yaitu :
1.           Faktor otot yaitu kontraktilitas otot jantung : Pada saat jantung kontraksi akan menghasilkan sejumlah bunyi
2.           Faktor katup yaitu menutupnya katup, membukanya katup tidak menghasilkan bunyi karena terjadi secara pasif : Pada fase sistole akan terjadi penutupan katup antrioventrikuler dan vase diastole akan terjadi penutupan katup semilinar.
3.           Faktor pembuluh darah yaitu terbulensi pembuluh darah.














Gambar 1 : Anatomi Jantung


2.1.3 Etiologi
Pada umumnya hypertensi tidak mempunyai penyebab yangspesifik, hypertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output ataupeningkatan tekanan perifer, namun ada beberapa factor yangmempengaruhi terjadinya hypertensi :
1.Usia
Insiden hypertensi makin meningkat dengan bertambahnya usia. Inisering disebabkan oleh perubahan alamiah didalam tubuh yangmempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormone. Hypertensi padayang berusia (35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri coronerdan kematian premature (Tambayong, 2000).
2.                       Jenis kelamin
Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi daripada wanita, namunpada usia pertengahan dan lebih tua. Insiden pada wanita akanmeningkat sehingga pada usia di atas 65 tahun. Insiden pada wanitalebih tinggi (Tambayong, 2000).

3.                       Obesitas
Adalah ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dengan kebutuhanenergi yang disimpan dalam bentuk lemak (jaringan subkutan tirai ususorgan vital jantung, paru dan hati) yang menyebabkan jaringan lemak inaktif sehingga beban kerja jantung meningkat. Obesitas tidak didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% atau lebih dariberat badan ideal. Akibat dari obesitas, para penderita cenderungmenderita penyakit kardiovaskuler. Hyperetnsi dan diabetes mellitus(Notoatmodjo, 2003).
4.                       Riwayat Keluarga
Yang menunjungan adanya tekanan darah yang meninggi merupakanfaktor resiko yang paling kuat bagi seorang untuk mengidap hypertensidimasa yang akan datang. Tekanan darah kerabat dewasa tinggi pertama(orang tua saudara kandung) yang dikoreksi terhadap umur dan jeniskelamin tampak ada pada semua tingkat tekanan darah (Padmawinata,2001).
5.                       Merokok
Departemen of Health and Human Services (1989) menyatakan bahwasetiap batang rokok terdapat : 4.000 unsur kimia, diantaranya tar, nikotinGas Co, N2, ammonia dan asetaldehida serta unsur-unsur karsinonger.Nikotin penyebab ketagihan merokok akan merangsang jantung, saraf otak dan bagian tubuh lainnya bekerja tidak normal. Nikotin tidak merangsang pelepasan adrenalin sehingga meningkatkan tekanan darah,denyut nadi dan tekanan kontraksi otot jantung, selain itu meningkatkankebutuhan oksigen jantung dan dapat menyebabkan ganguan irama jantung (Wijayakusuma, 2003).

6. Olahraga
Lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan hypertensi karenaolahraga isotanik dengan teratur akan menurunkan tahanan perifer yangakan menurunkan tekanan darah. Olahraga tidak dikaitkan dengan peranobesitas pada hypertensi, kurang olahraga akan menaikkan kemungkinantimbulnya obesitas dan jika asupan garam tidak bertambah, akanmemudahkan timbulnya hypertensi (Tjokronegoro, 2001).




2.1.4 Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”    disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
2.1.5 WOC






Kelebihan volume cairan
 























2.1.6 Manifestasi Klinis
           Manifestasi klinis pada klien dengan hypertensi adalah :
1.Peningkatan tekanan darah > 140 mmHg
2.Sakit kepala
3.Epitaksis
4.Pusing/ migraine
5.Rasa berat ditengkuk
6.Sukar tidur
7.Mata berkurang-kunang
8.Lemas dan lelah
9.Muka pucat
10. Suhu tubuh rendah











2.2  Konsep dasar asuhan keperawatan
2.2.1        Pengkajian
1.      Biodata
Mencakup identitas klien, meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat, no. medrek, Dx medis, tanggal masuk, tanggal pengkajian dan identitas keluarga
2.      Riwayat kesehatan
2.1 Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya pasien hipertensi keluhan adalah pusing yang hebat, badan terasa lemah, dan susah tidur.
2.2  Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya dengan pasien hipertensi didapat riwayat penyakit jantung koroner, merokok, penyalah gunaan obat, tingkat stress yang tinggi, dan gaya hidup yang kurang beraktivitas.
2.3  Riwayat Kesehatan Keluarga
Biasanya Perawat mengkaji riwayat penyakit kronis/generative keluarga yang ada hubungannya dengan adanya penyakit jantung, stroke, dan lain-lain.
3.      Data psikologis
Biasanya pada aspek psikologis, ditemukan adanya tingkat stress yang tinggi pada klien, emosi yang labil.
4.      Data Sosial
Biasanya pada aspek social tidak ditemukan hubungan ketergantungan karena klien masih bisa  melakukan aktifitasnya namun agak sedikit terganggu.


5.      Data spiritual
Biasanya pada aspek ini, ditemukan adanya keterbatasan melakukan aktivitas keagamaan.
6.             Data Biologis
-          Makanan dan minuman
Biasanya makan dan minum klien tidak terganggu.
-          Eliminasi
Biasanya tidak ada gangguan pada sistem eliminasinya
-          Istirahat dan tidur
Biasanya Istirahat dan tidur klien terganggu akibat dari nyeri pada kepala.
7.             Pemeriksaan Fisik
1.      Pengukuran tinggi dan berat serta kalkulasi BMI (Body Mass Index) yaitu berat dalam kg dibagi tinggi dalam m².
2.      Pengukuran tekanan darah
3.      Pemeriksaan system kardiovaskuler terutama ukuran jantung, bukti adanya gagal jantung, penyakit arteri karotis, renal, dan perifer lain serta koarktasio aorta.
4.      Pemeriksaan paru adanya ronkhi dan bronkhospasme serta bising abdomen, pembesaran ginjal serta tumor yang lain.
5.      Pemeriksaan fundus optikus dan system syaraf untuk mengetahui kemungkinan adanya kerusakan serebrovaskuler.



8.            Pemeriksaan Penunjang
- HB / HT, untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti,hipokoagulabilitas, anemia
.-BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal
-Glucosa : hyperglikemi (OM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin
-Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM
-CT scan : mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
-EKG : dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggianngelobang P adalah salahsatu tanda dini penyakit jantung hypertensi
-IUP : mengidentifikasikan penyebab hypertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan ginjal
-Photo dada : menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katuppembesaran jantung.

2.2.2        Diagnosa Keperawatan
      Kemungkinan diagnosa yang akan muncul :
1.      Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular
2.      Gangguan perfuasi jaringan sehubungan dengan menurunnya suplai O2 jaringan perifer.
3.      Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d peningkatan tekanan vaskuler serebral, iskemia miokard
4.      Intoleran aktivitas b.d kelemahan umum ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
5.      Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan pusing sekunder dengan peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK).
6.      Kelebihan volume cairan b/d penurunan perfusi ginjal; peningkatan natrium/retensi air; peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma.
7.      Resti injuri b/d Spasme arteriole, diplopia












2.2.3        Intervensi Keperawatan

Dx 1 : Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular
Tujuan
Intervensi
Rasional
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien mau berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD/beban kerja jantung dengan KH :
- TD dalam rentang individu yang dapat diterima
- Irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal
-Pantau TTD




- Catat keberadaan,kualitas denyutan sentral dan perifer






-Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas








-Amati warna kulit,kelembaban,suhu,dan masa pengisian kapiler




-Catat edema umum/tertentu


-Berikan lingkungan tenang dan nyaman,kurangi aktivitas/keributan lingkungan .batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.
-Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi;jadwal periode istirahat tanpa gangguan;bantu pasien melakukan perawatan diri sesuai kebutuhan.

-Lakukan tindakan-tindakan nyaman seperti pijatan punggung dan leher,miringkan kepala di tempat tidur.

-Anjurkan tehnik relaksasi,panduan imajinasi ,aktivitas pengalihan.

-Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
-Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vascular.

-Denyutan karotis,jugularis,radialis dan femolarismungkin teramati/terpalpasi.Denyut pada tungkai mungkin menurun,mencerminkan efek dari vasokontriksi(peningkatan SVR) dan kongesti vena.

 -S4 umumnya terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipermetrofi atrium(peningkatan volume/tekananatrium)Perkembangan S3 menunjukkan hipertrofi ventrikel dan kerusakan fungsi,adanya krakles,mengi dapat mengindikasikan kongesti paru skunder terhadap terjadinya atau gagal ginjal kronik.

-adanya pucat,dingin,kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi atau mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung

-Dapat mengindikasikan gagal jantung,kerusakan ginjal atau vascular.

-Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis;meningkatkan relaksasi



-Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit hipertensi.





-Mengurangiketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.




-Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress,membuat efek tenang,sehingga menurunkan TD.

-Respon terhadap terapi obat “stepeed”(yang terdiri atas diuretic.inhibitorsimpatis dan vasodilator)tergantung pada individu dan efek sinergis obat.karena efek samping tersebut,maka penting untuk menggunakan obat dalam jumlah paling sedikit dan dosis paling rendah.

Dx 2 : Gangguan perfuasi jaringan sehubungan dengan menurunnya suplai O2 jaringan perifer.
Tujuan
Intervensi
Rasional
Tuju Tujuan : suplai O2 ke jaringan terpenuhi
2)        Kriteria hasil :
         a) Kulit tampak kemerahan tidak cyanosis
                                                               b)Suhu tubuh dalam batas normal 36°C s.d 37°C
c) Nadi dalam batas normal ( 60-80 x/mnt )

- Monitor tekanan darah, untuk evaluasi awal gunakan manset yang tepat dan tehnik yang akurat.

- Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral perifer
c)     




     -Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.





- Catat adanya oedem umum / tertentu 

- Ciptakan lingkungan yang nyaman

-Batasi aktivitas
g)    



 - - Lakukan tindakan yang nyaman seperti meninggikan kepala di tempat tidur.
h)     - Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.
- perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan masalah vaskuler.
- denyutan karotis, juguralis, radialis dan femoralis mungkin teramati/ terpolasi denyut pada tungkai mungkin menurun mencerminkan efek dan vasokontriksi dan kongesti vena.
- adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisia kapiler lambat, mungkin kaitannya dengan vasokontriksi atau mencerminkan dekompensasi/ penurunan curah jantung
- dapat mengidentivikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler.
- membantu menurunkan rangsang simpatis, meningkatkan relaksasi.
- menurunkan stress dan ketegangan yang mrmpengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit.
- mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.
- respon terhadap terapi obat, tergantung individu efek sinergis obat karena efek sampinh tersebut, maka penting untuk menggunakan obat dalam jumlah sedikit dan dosis rendah.
Kolaborasi : berikan obat sesuai indikasi.










Dx 3 : Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d peningkatan tekanan vaskuler serebral, iskemia miokard
Tujuan
Intervensi
Rasional
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri berkurang dengan KH :
-Klien melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol
-mempertahankan tirah baring selama fase akut

-berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala mis; kompres dingin pada dahi,pijat punggung dan leher,tenang,redupkan lampu kamar lampu kamar,tehnik relaksasi(panduan imajinasi,diktraksi) dan aktifitas waktu senggang.


-Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala mis; mengejan saat BAB,batuk panjang dan membungkuk.



-Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan





-berikancairan,makanan lunak,perawatan mulut yang teratur bila terjadi pendarahan hidung  atau kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan pendarahan








-kolaborasi  pemberian obat analgesik,



- kolaberasi pemberian obat Antiansietas mis; lorazepanm(ativan),diazepam,(valium)
-meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
-tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
-Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vascular serebral.

-pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala.pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural.
-meningkatkan kenyamanan umum.kompres hidung dapat mengganggu proses menelan atau membutuhkan napas dengan mulut ,menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan membrane mukosa.


-munurunkan/ mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang system saraf simpatis.

-dapat mengurangi ketegangan dan ketidaknyamanan yang diperberat oleh stress.








Dx 4 : Intoleran aktivitas b.d kelemahan umum ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Tujuan
Intervensi
Rasional
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien klien mampu melakukan aktivitas yang ditoleransi KH :
-Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan
-melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur
-menunjukkan penurunan dalam tanda – tanda intoleransi fisiologi
-Kaji respon klien terhadap aktivitas,perhatian frekuensi nadi lebih dari20 X per menit di atas frekuensi istirahat ;peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktivitas,dispnea,nyeri dada;keletihan  dan kelemahan yang berlebihan;diaphoresis;pusing atau pingsan.

-Intruksikan pasien tentang tehnik penghematan energi,mis; menggunakan kursi saat mandi,duduk saat menyisir rambut atau menyikat gigi,melakukan aktifitas dengan perlahan.

-Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi .berikan bantuan sesuai kebutuhan.
-menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologi terhadap stres aktivitas dan bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.




-Tehnik menghemat energi mengurangi penggurangan energy juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.


-kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba- tiba.memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.







Dx 5 : Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan pusing sekunder dengan peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK).

Tujuan
Intervensi
Rasional
       Tujuan : penderita bisa istirahat dan tidur dengan tenang
2)      Kriteria hasil : a)  Penderita bisa tidur ±8 jam perhari.
b)      Mata tidak tampak merah.
- Kaji kebiasaan tidur / istirahat

- Kaji kebiasaan pengguanaan obat sedative

- Ciptakan suasana tenang

- Anjurkan tehnik relaksasi

-. Beri posisi tidur yang nyaman
- mengkaji perk\lunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
- kebiasaan pemakaian obat sangat sedative sangat mempengaruhi pola tidur.
- memberikan situasi kondusif untuk tidur.
- membantu menginduksi tidur.
- perubahan posisi mengubah cara tekanan dan meningkatkan istirahat.


Dx 6 : Kelebihan volume cairan b/d penurunan perfusi ginjal; peningkatan natrium/retensi air; peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma.
Tujuan
Intervensi
Rasional
Tujuan ; Cairan Tubuh Dalam Keadaan Normal.
Kriteria Hasil :
-Cairan tubuh pasian Normal
-tidak terjadi udema
-Auskultasi bunyi napas terhadap adanya krekels.

-Pantau adanya DVJ dan edema anasarka

-Hitung keseimbangan cairan dan timbang berat badan setiap hari bila tidak kontraindikasi.







-Pertahankan asupan cairan total 2000 ml/24 jam dalam batas toleransi kardiovaskuler.


-Kolaborasi pemberian diet rendah natrium.

-Kolaborasi pemberian diuretik sesuia indikasi (Furosemid/Lasix, Hidralazin/ Apresoline, Spironlakton/ Hidronolak-ton/Aldactone)
-Pantau kadar kalium sesuai indikasi.
- Indikasi terjadinya edema paru sekunder akibat dekompensasi jantung.
- Dicurigai adanya GJK atau kelebihan volume cairan (overhidrasi)
- Penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium/air dan penurunan haluaran urine. Keseimbangan cairan positif yang ditunjang gejala lain (peningkatan BB yang tiba-tiba) menunjukkan kelebihan volume cairan/gagal jantung.
- Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa tetapi tetap disesuaikan dengan adanya dekompensasi jantung.
- Natrium mengakibatkan retensi cairan sehingga harus dibatasi.
- Diuretik mungkin diperlukan untuk mengoreksi kelebihan volume cairan.


- Hipokalemia dapat terjadi pada terapi diuretik yang juga meningkatkan pengeluaran kalium.

Dx 7 : Resiko injury b/d Spasme arteriole, diplopia

Tujuan
Intervensi
Rasional
Tujuan : Resiko injuri berkurang
Kriteria hasil : Pasien merasa tenang dan tidak takut jatuh
-Atur posisi pasien agar aman.
-Pertahankan tirah baring secara ketat
-Atur kepala taruh diatas daerah yang empuk ( lunak )
-Menurunkan resiko injuri
-Pasien mungkin merasa tidak dapat beristirahat atau perlu untuk bergerak
-Menurunkan resiko trauma secara fisik





BAB III
TINJAUAN PUSTAKA


















BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam pelaksanaan asuhan keperawaan yang penulis laksanakan pada Ny, U dengan gangguan sistem kardiovaskular : hipertensi di Ruang Melati YARSI Tasikmalaya diperoleh kesimpulan bahwa dalam proses asuhan keperawatan dengan gangguan sistem kardiovaskular : hipertensi dibutuhkan suatu koordinasi yang tepat serta menunjang ke arah tercapainya tujuan. Salah satu koordinasi ini merupakan bentuk kerjasama tim antara perawat, dokter, staf ruangan, demi peningakatan status kesehatan klien disertai dengan dukungan penuh dari keluarga.
B.     Saran
Untuk Klien dan Keluarga
  • Diharapkan klien mau memotivasi dirinya sendiri untuk pola hidup yang menuju ke arah berulangnya hipertensi, misalnya hinadri konsumsi garam berlebih, hindari stress, jangan banyak pikiran, dan olah raga teratur. Anjurkan untuk selalu cek status kesehatan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.
  • Diharapkan keluarga memberikan support yang positif bagi klien demi peningakat status kesehatan klien dan diharapkan keluarga ikut waspada terhadap resiko pada keluarga klien sendiri.
Untuk Siswa
  • Diharapkan siswa dapat lebih mempersiapkan diri baik dari segi teori, skill, amupun mental dalam menghadapi klien agar dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi peningkatan status kesehatan klien.
  • Memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif bagi klien dengan melihat aspek bio-psiko-sosio-spiritual
Untuk Rumah Sakit
  • Diharapkan adanya penambahan personil perawat di Ruangan Melati demi meningakatkan kinerja dan pelayanan yang lebih maksimal.
  • Diharapkan pemeriksaan laboratorium pada klien hipertensi dapat lebih dilengakapi.

3 komentar: